Deskripsi karya foto memperlihatkan peron kereta dengan struktur logam yang kokoh, menunjukkan bagaimana infrastruktur transportasi dirancang untuk mengakomodasi mobilitas masyarakat modern. Peron ini tidak hanya menjadi tempat transit, tetapi juga mencerminkan bagaimana ruang publik diorganisasi untuk efisiensi. Keberadaan orang-orang yang berlalu lalang di peron menunjukkan pergerakan tanpa henti, menggambarkan sifat ruang ini sebagai tempat yang dinamis dan fungsional. Namun, di balik dinamika ini, terdapat keteraturan yang dijaga oleh desain ruang dan aturan yang mengatur perilaku penggunanya. Peron juga menjadi tempat bertemunya berbagai kelompok masyarakat—pekerja, pelajar, dan keluarga—yang semuanya membawa cerita masing-masing dalam perjalanan mereka.
Karya juga menampilkan suasana stasiun dengan orang-orang dari berbagai usia dan latar belakang yang bergerak ke arah yang berbeda. Anak-anak kecil, orang dewasa, dan lansia tampak berbagi ruang dalam harmoni. Dalam konteks ini, stasiun tidak hanya menjadi tempat transit, tetapi juga ruang di mana nilai-nilai sosial seperti kebersamaan, kesabaran, dan toleransi diuji. Kehadiran tanaman hijau di sepanjang peron memberi kesan bahwa stasiun ini tidak hanya difungsikan untuk mobilitas, tetapi juga untuk kenyamanan penggunanya, mencerminkan upaya untuk menjadikan ruang publik lebih humanis. Kehadiran tanda-tanda seperti toilet dan musala juga menunjukkan bagaimana kebutuhan dasar masyarakat diakomodasi dalam desain ruang publik modern.
Dalam perspektif teori ruang publik Habermas, stasiun kereta ini mencerminkan fungsi ruang publik sebagai tempat interaksi sosial dan diskursus. Meski interaksi langsung antara individu mungkin terbatas, ruang ini tetap menjadi tempat bertemunya berbagai identitas dan nilai-nilai kolektif. Ruang ini mencerminkan bagaimana norma-norma sosial, seperti kedisiplinan dan kesadaran kolektif, dibangun dan diperkuat dalam kehidupan sehari-hari. Lebih jauh, dalam konteks Indonesia, ruang publik seperti stasiun kereta juga menjadi ajang pertemuan antara tradisi dan modernitas. Misalnya, keberadaan musala di stasiun mencerminkan adaptasi nilai-nilai lokal ke dalam sistem transportasi global yang lebih seragam. Hal ini menunjukkan bahwa ruang publik bukan hanya tempat untuk berpindahnya tubuh, tetapi juga tempat di mana gagasan, kebiasaan, dan nilai-nilai masyarakat terus berkembang.
Ruang publik, seperti stasiun kereta, menjadi cerminan bagaimana masyarakat menghadapi perubahan sosial dan budaya. Di satu sisi, ruang ini menunjukkan efisiensi dan modernitas yang diperlukan dalam kehidupan urban, sementara di sisi lain, ia tetap mempertahankan elemen-elemen tradisional yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Dalam konteks ini, ruang publik tidak hanya menjadi tempat bagi aktivitas fisik,tetapi juga
arena bagi transformasi sosial, di mana norma-norma baru terus dibentuk dan disesuaikan dengan dinamika kehidupan modern. Stasiun kereta, seperti yang tergambar dalam foto-foto ini, adalah cerminan nyata dari ruang publik yang hidup, penuh cerita, dan menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat urban.
Karya:
Fauzan Fadya Putra
Ikbar sofyanto
Rakha Sadharma
Ibnu Sauqi
Agustian Indra Kusuma
Izzul wafa
Mohammad zaki syehan